Selayang Pandang, Kerajaan Islam Sambas. Penyusun Urai Riza Fahmi S.Pd (Resensi buku)
Posted: April 19, 2011 in resensi buku MelayuJudul buku: Selayang Pandang, Kerajaan Islam Sambas,
Penerbit: Istana Alwatzikhoebillah Sambas.
Penyusun: Urai Rizai Fahmi, S.Pd, Tim Asistensi: Urai Amundin Bin Raden Ismail, Urai Kaharudin Bin Raden Ismail, H. Urai Aliuddin Yusuf Kesuma Putra, Urai M.Amin Yusuf Kesuma Putra, Urai Maulana Bin Raden Zainal, Drs. H.Urai Syukrie Ibrahim, Urai Ahmad Aria, Urai Baruddin Idris, Urai Sukran Ibrahim.
Pendukung Operasional: Hadi Wuryanto, SE, Urai Rukyat, S.Hut, Yuhendri, Suriadi.
Cetakan Kelima Edisi Khusus Revisi Tahun 2005.
Istana Alwatzikhoebillah Sambas, Jln. Istana No.1 Dalam Kaum Sambas, Telp. 0562-392539
Cover buku Selayang Pandang, Kerajaan Islam Sambas
Pada buku ini penyusun membagi menjadi tujuh bagian atau bab, pada Bab I lebih membahas sejarah berdirinya Kerajaan Islam Sambas, Bab II membahas masa pemerintahan Sulthan Muhammad Tadjudin (Murhum Bima), Bab III membahas masa pemerintahan Sulthan Umar Aqamadin I (Murhum Adil), Bab IV membahas masa pemerintahan Sulthan Umar Aqamaddin II (Murhum Jama’), Bab V membahas masa pemerintahan Sulthan Abubakar Tadjudin I (Murhun Janggut), di Bab VI membahas masa pemerintahan Sulthan Abubakar Tadjudin II (Murhum Cianjur), Bab VII membahas masa pemerintahan Sulthan Muhammad Tsafiuddin II (Datuk Tua).
sambutan Pangeran Ratu H. Winata Kesuma di awal buku ini
Ydt. Sulthan Muhammad Tsafiuddin II, Sulthan Sambas Ke-13, memerintah1866 – 1922 M (atas)
Ydt. Sulthan Umar Kamaluddin, Sulthan Sambas Ke-12, memerintah 1855 – 1866 M (atas)
Pangeran Adipati Ahmad Putra Mahkota yang tidak sempat menjadi sulthan, beliau wafat 1916 M (atas)
Sulthan Muhammad Ali Tsafiuddin II diangkat sebagai wakil sulthan, memerintah 1922 – 1926 M (atas)
Sulthan Muhammad Mulia Ibrahim Tsafiuddin, Sulthan Sambas ke-15, memerintah 1931 – 1943 (atas)
Pangeran Ratu Muhammad Taufiq ( 1931 – 1984 ) (atas)
Pembacaan sumpah pada saat Raden H.Winata Kesuma di gelar sebagai Pangeran Ratu di Istana Alwatzikhoebillah, Sambas pada tanggal 15 Juli 2000.
Pontianak City Tour dengan tamu dari Korea Selatan, Mr. Hanshik Chung, Ph.D.dan Mrs. Younsun Cha, Ph.D
Posted: April 18, 2011 in Pontianak City TourJumat, 15 April 2011 kami menjemput tamu dari Korea di Mercure Hotel Pontianak, sesuai janji yang telah disepakati dengan Ibu Ratih Jakarta dengan kami Tamasya Tour & BCI tentang paket Pontianak City Tour yang di pesan oleh kliennya dari Korea itu, tugas kami membawa pasangan Korea ini berkeling tour Pontianak. Ternyata mereka lebih memilih dan tertarik ke area seputar sungai Kapuas …. Ok kita langsung on the way …..
dibawah ini adalah foto-foto tentang perjalanan kami dengan tamu Korea berkeliling kota Pontianak ….
foto bersama di Monumen Tugu Khatulistiwa
Mengunjungi Rumah Betang suku Dayak …..
menaiki tangga rumah betang suku Dayak

mengamati Tiang pancar di halaman rumah betang
Sebagian besar waktu tour kita banyak dihabiskan untuk menyusuri pinggiran sunga Kapuas, melihat aktifitas kehidupan masyarakat pinggiran sungai, dengan kapal fery penyeberangan dan naik sampan kami menyusuri sungai ini …. beberapa view di sungai Kapuas akan kita lihat ….
pangkalan sampan di depan korem
Monumen Tugu Khatulistiwa, terletak di seberang sungai kapuas ….
Vihara Vajra Bumi Kertayuga umat Budha ……
pusat soevenir di jalan Patimura PSP
soevenir yang di beli oleh Mr. Hanshik Chung, dengan selera yang tradisional dan antik
Teman-teman Singapore dapat langsung terbang ke Pontianak, tanpa transit.
Posted: Maret 31, 2011 in panduan berkunjung ke PontianakSingapore … adalah kota yang identik dengan icon Singa dengan air mancur yang keluar dari mulutnya, dapat kita jumpai di sana … sangat menarik.
Patung Singa Merlion, foto: http://039randy.wordpress.com
Tulisan saya kali ini memberi kabar ke teman-teman yang berada di Singapore bahwa jarak kita semakin dekat saja dalam hal transportasi yang menghubungkan dua kota kita, yakni antara kota Singapore, tempat teman-taman berada dan kota Pontianak, tempat saya tinggal saat ini….
Dari Airpot Changi Singapore, anda tinggal mengunakan maspakapai Batavia Air ke Pontianak dengan jadwal setiap hari Selasa, Kamis dan Minggu, terbang pada jam 10.35 (waktu Singapore) dan tiba di Airpot Supadio Pontianak di jam 10.50 wib (waktu Indonesia). Perjalanan ini menempuh waktu satu jam saja.
Info tambahan untuk jadwal penerbangan Pontianak – Singapore adalah sama di hari Selasa, Kamis dan minggu di jam 13.00 wib (waktu Indonesia).
Airpot Supadio Pontianak
Setiba di Airpot Supadio Pontianak, anda dapat menjumpai saya, karena sehari-hari saya berkantor di tamasya tour airpot Supadio, kami tamasya tour siap membantu anda dalam hal kebutuhan informasi mengenai kota Pontianak. Di Airpot Supadio, banyak di jumpai taxi airpot yang siap menghantar anda ke kota dengan tarif berkisa Rp. 80.000. Setiba di kota banyak pilihan tempat menginap buat anda dengan berbagai tarif dan fasilitas yang sesuai dengan keinginan anda.
Selamat mencoba perjalanan ke Pontianak …
. tamasya tour, telp 0561-777889 – Herfin Yulianto, call 0811576458
Jalur penerbangan langsung menghubungkan dua kota, Kuching – Pontianak
Posted: Maret 29, 2011 in panduan berkunjung ke PontianakHalo rekan-rekan yang berada di kota Kuching …….
Bagi anda yang berdomisili di kota kuching dan berkeinginan untuk berkunjung ke kota Pontianak tidaklah susah dalam hal transportasinya, karena kini ada maskapai dengan rute penerbangan langsung ke Pontianak. Anda dapat memulai kepergian dari Airpot Kuching dengan memilih maskapai penerbangan Batavia Air.
Saya akan memberikan info jadwal keberangkatan maskapai Batavia dari kota Kuching ke Pontianak, berangkat setiap hari Selasa, Kamis dan minggu, dengan nomer flight Y6-822, jam keberangkatan 13.50 (waktu Kuching) dan tiba di Pontianak pukul 13.25 (waktu Pontianak). Perjalanan akan memakan waktu kurang lebih 25 – 30 menit.
Disarankan jika membeli tiket pesawat akan lebih murah jika kita membeli tiket pergi – pulang di banding jika kita membeli tiket pergi saja. Jika membeli tiket pergi Kuching – Pontinak berkisar Rp. 780.000 dan seharga Rp 705.000 untuk harga tiket pulang Pontianak-Kuching, tetapi jika membeli tiket pulang pergi kita akan mendapatkan harga Rp 1.440.000……. hematkan.
Dan jadwal pesawat Pontianak-Kuching sama saja, tetap di hari Selasa, Kamis dan Minggu, di jam keberangkatan pesawat di jam 11.40 wib (waktu Pontianak) dengan nomer flight batavia Y6-821.
Airpot Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat.
Sangatlah mudah dan tidak lah sulit mencapai kota Pontianak, dengan waktu 30 menitan anda telah tiba di airpot Supadio, mudahkan ?
Setiba di airpot Supadio Pontianak anda akan banyak menemukan taxi service airpot, dengan tarif Rp. 80.000 anda akan diantar kota, dan dengan mudah anda dapatkan hotel dengan berbagai tarif sesuai dengan keinginan anda.
Nah di Airpot Supadio anda akan dapat menjumpai saya, Herfin Yulianto, karena sehari-hari saya berkantor di Tamasya Tour, Airpot Supadio. Jadi janganlah segan untuk menjumpai saya untuk memperoleh info-info yang anda perlukan mengenai kota Pontianak.
Selamat mencoba perjalanan ke Pontianak …
Tamasya Tour, Pontianak. Telp 0561-777889 – Herfin Yulianto, call 0811576459
Dinamika Industri Keramik Cina di Sakkok, kota Singkawang (Resensi buku)
Posted: Maret 25, 2011 in resensi buku TionghoaJudul buku : Dinamika Industri Keramik Cina di Sakkok Kota Singkawang Tahun 1933 sampai Tahun 2008, Pengarah : Dra. Lisyawati Nurcahyani, M.Si, Penulis : Ani Rahmayani, S.S, Hak Cipta : Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak, wilayah Kalimantan, Penerbit : Balai Pelestarian Sejarah dan Tradisional Pontianak.
Tulisan yang mengambil judul Dinamika Industri Kermik Cina di Sakok, Kota Singkawang tahun 1933-2005 ini pada dasarnya adalah untuk mengurai tentang dinamika industri kerajinan Cina dalam komunitas Tionghoa sehingga mampu merekontruksi perkembangan industri keramik dari tahun ke tahun dengan berbagai faktor yang mempengaruhinya. Dengan demikian tulisan ini dapat menambah koleksi kajian yang ada tentang industri kerajinan dalam perspektif sejarah.
Pada dasarnya, tulisan ini bertujuan untuk menguraikan pasang surut industri ini yang pada akhirnya pembuatan keramik tradisional Cina menjadi salah satu faktor yang berpengaruh pada kehidupan ekonomi masyarakat sekitar terutama masyarakat Tionghoa. Selain itu, peluang ekonomi yang terdapat di industri ini sejalan dengan nilaitradisional Cina ini. Peluang ekonomi kreatif pada industri kerajinan keramik tradisional Cina sebenarnya sangat besar walaupun pada beberapa kurun waktu terakhir industri ini menunjukkan penurunan.
Berdasarka penelitian yang dilakukan, penulis menguraikan tentang masyarakat Tionghoa (sejarah dan komunitas yang dibangun) dan budaya pembuatan keramik di Sakok. Selain itu pendirian perusahaan keramik mulai dari awal abad ke-20, sampai pada awal abad ke-21 ini. Termasuk di dalamnya adalah dinamika industri ini yang dipengaruhi berbagai faktor. Keadaan politik, seperti masa pendudukan Jepang, konflik PGRS/Paraku ternyata sangat berpengaruh pada industri ini. Begitu pula faktor ekonomi yang kacau pada tahun 1966 dan mulai membanjirnya produk plastik yang merupakan sebab utama kemunduran industri ini pada tahun 1070-1980an. Dinamika industri ini juga dipengaruhi oleh bantuan dari Himpunan Keramik Indonesia.
Keramik Cina di Singkawang tepatnya di Sakkok, Kelurahan Sedau, Kecamatan Singkawang Selatan telah menjadi suatu kerajinan yang banyak di minati oleh penggemar keramik Indonesia. Motif dan cara pembuatan yang mempertahankan aspek tradisional Cina membuat keramik ini berbeda dengan jenis keramik lain yang ada di Indonesia. Bahan baku pembuatan keramik ini berbahan dasar dari alam yakni Kaolin.
Dengan membaca buku ini diharapkan dapat menambah kajian tentang ekonomi kreatif dari sudut pandang sejarah, dan dapat menjadi referansi baik untuk pemerintah, pengusaha keramik atau masyarakat umum dalam usaha pelestarian nilai-nilai budaya Tionghoa Kalimantan Barat sebagai bagian dari budaya masyarakat Indonesia.
. Herfin Yulianto, S.E.
Rumah Betang Ensaid Panjang “sebuah makna kehidupan bersama”, film dokumenter karya Arsitektur Hijau, Bandung
Posted: Maret 24, 2011 in resensi film seni budayaKampung Ensaid Panjang merupakan salah satu pemukiman dayak yang masih dapat ditemukan di Kalimantan Barat. Kampung ini terletak di Desa Ensaid Panjang Kecamatan Kelam Permai Kabupaten Sintang. Pencapaian menuju Ensaid Panjang tidak terlalu sulit, dengan menggunakan kendaraan pribadi atau menumpang kendaraan umum, kampung ini dapat dicapai dari kota Sintang selama kurang lebih 2 jam. Jalan yang berbatu dan sempit membawa kami menembus alam Kalimantan, melewati beberapa perumahan transmigrasi dan menyuguhkan pemandangan yang menarik. Hutan Kalimantan tidak lagi selebat yang kami bayangkan, lahan-lahan terbuka lebih banyak kami temui, dengan latar belakang hamparan bukit dan pegunungan.
Masyarakat Ensaid Panjang merupakan masyarakat Dayak Desa. Suku Dayak Desa adalah bagian dari suku Dayak Iban. Pada awalnya masyarakat Dayak Desa ini tidak berlokasi di tempat sekarang, mereka mendiami daerah sekitar sungai Desa di daerah Serawak …. Tetapi kemudian, karena perjalanan mengayau dan sempat terjadi pertukaran daerah, suku Dayak Iban yang dipimpin oleh Demong Gelong ini akhirnya menempati lokasi sekarang … di daerah Sintang … Merekalah yang menjadi cikal bakal masyarakat Ensaid Panjang.
cover depan cd film Ensaid Panjang
Dua paragraf diatas adalah narasi penghantar dari film dokumenter yang tertulis jelas disisi belakang cover cd film ini.
Sedikit Prakata saya …
Saya sangat berterimah kasih kepada kawan-kawan di Arsitektur Hijau yang telah menyumbangkan cd film ini ke BCI, film ini akan mengisi dan menambah koleksi perbendaharaan film-film dokumenter yang BCI miliki. Besarnya manfaat film-film ini sangat membantu program pelestarian seni budaya borneo yang BCI lakukan. BCI merasakan sulitnya mendapatkan referensi-referensi film dokumenter yang meng-explore masalah seni budaya borneo, kurangnya peminat pembuat film yang tertarik mengarap sisi film ini … Tetapi hal ini tidak terjadi pada kalian, saya salut banget buat kawan-kawan dari Arsitektur Hijau yang jauh-jauh dari Bandung dan bersemangat datang ke Desa Ensaid Panjang hanya untuk membuat film dokumenter ini … emang boleh dibilang gila habis…. Gemana kalian bisa sampai tertarik membuat ini ? Saya mulai berpikir kenapa kita yang tinggal di sini kurang melakukan hal-hal seperti yang kalian lakukan ? Semoga dengan stimulus yang dibuat kawan-kawan Arsitektur Hijau membuat kami sadar untuk berbuat … Amin
cover belakang cd film Ensaid Panjang
Setelah saya menyaksikan film ini yang berdurasi 25 menitan …
ternyata film ini patut dan sepantasnya untuk ditonton dan dilihat, sangat menarik sekali. Saya mulai berpikir jika teman-teman atau siapapun yang ingin menyaksikan film ini, kita BCI dapat menfasilitasi pemutaran itu, BCI akan menfasilitasi hanya untuk permintaan pemutaran film dalam jumlah banyak atau group, dan ini dapat anda tonton di BCI jalan Martadinata.
Mungkin ini adalah bentuk terimakasih saya ke Kawan-kawan Arsitektur Hijau, ternyata karya film kalian sangat bermanfaat buat pendidikan dan pengetahuan seni budaya borneo di BCI.
Terimaksih … Andri Syawalza … Aprilia Larasati … kawan-kawan semua di Arsitektur Hijau …
tertanda, Diretur BCI Herfin Yulianto.

































