Arsip untuk ‘resensi buku Melayu’ Kategori


Judul buku: Selayang Pandang, Kerajaan Islam Sambas,

Penerbit: Istana Alwatzikhoebillah Sambas.

Penyusun: Urai Rizai Fahmi, S.Pd, Tim Asistensi: Urai Amundin Bin Raden Ismail, Urai Kaharudin Bin Raden Ismail, H. Urai Aliuddin Yusuf Kesuma Putra, Urai M.Amin Yusuf Kesuma Putra, Urai Maulana Bin Raden Zainal, Drs. H.Urai Syukrie Ibrahim, Urai Ahmad Aria, Urai Baruddin Idris, Urai Sukran Ibrahim.

Pendukung Operasional: Hadi Wuryanto, SE, Urai Rukyat, S.Hut, Yuhendri, Suriadi.

Cetakan Kelima Edisi Khusus Revisi Tahun 2005.

Istana Alwatzikhoebillah Sambas, Jln. Istana No.1 Dalam Kaum Sambas, Telp. 0562-392539

Cover buku Selayang Pandang, Kerajaan Islam Sambas

Pada buku ini penyusun membagi menjadi tujuh bagian atau bab, pada Bab I lebih membahas sejarah berdirinya Kerajaan Islam Sambas, Bab II membahas masa pemerintahan Sulthan Muhammad Tadjudin (Murhum Bima), Bab III membahas masa pemerintahan Sulthan Umar Aqamadin I (Murhum Adil), Bab IV membahas masa pemerintahan Sulthan Umar Aqamaddin II (Murhum Jama’), Bab V membahas masa pemerintahan Sulthan Abubakar Tadjudin I (Murhun Janggut), di Bab VI membahas masa pemerintahan Sulthan Abubakar Tadjudin II (Murhum Cianjur), Bab VII membahas masa pemerintahan Sulthan Muhammad Tsafiuddin II (Datuk Tua).

sambutan Pangeran Ratu H. Winata Kesuma di awal buku ini

Ydt. Sulthan Muhammad Tsafiuddin II, Sulthan Sambas Ke-13, memerintah1866 – 1922 M (atas)

Ydt. Sulthan Umar Kamaluddin, Sulthan Sambas Ke-12, memerintah 1855 – 1866 M (atas)

Pangeran Adipati Ahmad Putra Mahkota yang tidak sempat menjadi sulthan, beliau wafat 1916 M (atas)

Sulthan Muhammad Ali Tsafiuddin II diangkat sebagai wakil sulthan, memerintah 1922 – 1926 M (atas)

Sulthan Muhammad Mulia Ibrahim Tsafiuddin, Sulthan Sambas ke-15, memerintah 1931 – 1943 (atas)

 

Pangeran Ratu Muhammad Taufiq ( 1931 – 1984 ) (atas)

Pembacaan sumpah pada saat Raden H.Winata Kesuma di gelar sebagai Pangeran Ratu di Istana Alwatzikhoebillah, Sambas pada tanggal 15 Juli 2000.


Judul Buku : Budaya Melayu di Kalimantan Barat. Penulis : Yusriadi, Tarmizi Karim, Gusti M. Fadli A. Norman, M. Dardi D. Has. Hermansyah, Zagry Abdullah, Iskandar M. Haris, Dedy Ari Asfar, A. Alexander, A. Muin Ikram, Moh. Haitami Salim, Nur Iskandar, Pabali Musa. Editor : Dedy Ari Asfar, Yusriadi, Hermansyah. Diterbitkan oleh : STAIN Pontianak Press bekerjasama dengan PSBMB, STAIN Pontianak, MABMKB dan Harian Equator

Buku ini merupakan kumpulan bahan seminar adat istiadat Melayu di Kalimantan Barat, yang diselenggarakan Pusat Studi Bahasa dan Masyarakat Borneo (PSBMB), Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pontianak, Majelis Adat dan Budaya Melayu Kalimantan Barat dan Harian Equator Pontianak, Juli 2005 lalu. Penerbitan bahan seminar ini didorong oleh harapan besar untuk mengisi kekosongan informasi mengenai masyarakat etnik di Kalimanatan Barat.

Membicarakan Kalimantan Barat tanpa menyinggung peranan orang Melayu bukan saja tidak munasabah, tetapi juga akan menimbulkan bias. Dalam catatan kecil mengenai sejarah Kalimantan Barat, Melayu memegang peranan sentral; melalui pertuanan belasan Kerajaan kecil di muara-muara sungai utama. Begitu juga dalam rekontruksi prasejarah, Melayu (bahasa Melayu) malah menjadi bahasa utama dan bahasa asal dari variasi-variasi bahasa melayu yang tersebar dunia sekarang ini.

Sejak akhir abad ke-20, muncul hipotesis yang meletakkan Pulau Borneo bagian bagian barat (Kalimantan Barat) sebagai tanah asal usul bahasa Melayu. Hipotesis ini muncul setelah beberapa ahli linguistik sejarah melakukan penelitian, perbandingan dan penelusuran pelbagai dialek Melayu dan bahasa-bahasa yang ada hubungan dengan bahasa Melayu di pulau Borneo dan diluar pulau Borneo, seperti Bangka, Jakarta, Madagaskar (Collins 1995; Collins 2005 dan Nothofer 1966).

Hipotesis ini bukan saja mendudukan pulau ini pada tempat yang sentral dalam peta nusantara, tetapi juga dengan sendirinya meletakkan orang Melayu di pulau ini pada tempatyang penting. Bagaimanapun membicarakan bahasa Melayu jelas berarti membicarakan penutur bahasa itu, yang antara lain orang-orang Melayu.

Hipotesis ini juga memiliki konsekuensi logis dalam konstruk ilmu pengetahuan masyarakat. Jika sebelumnya masyarakat berpijak pada teori Hendrik Kern bahwa asal usul Melayu dari Yunan Selatan yang berpindah ke Sumatera dan kemudian ke Kalimantan, sekarang masyarakat diajak berpikir lain. Sekarang pengetahuan yang sudah ada mendarah daging itu harus di rombak dan ditinggalkan.

Selain alasan prasejarah itu, pada tataran sejarah sebenarnya orang Melayu juga memainkan peranan sentral mengolak dinamika sosial politik di Kalimantan Barat. Kehadiran belasan Kerajaan Melayu (Matan, sukadana, Kubu, simpang, Pontianak, Mempawah, Sambas, Landak, Sanggau, Sintang Meliau, Sekadau, Silat, Selimbau, Jongkong dan Bunut) di kawasan ini mengindikasikan bahwa orang Melayu menjadi pengambil kebijakan dan bahkan arah perkembangan sosial hari ini.

Raja-Raja Melayu itu tidak hanya menghimpun hasil bumi masyarakat lokal. Tetapi dalam banyak catatan memperlihatkan Raja-Raja ini menjalankan tugas-tugas pemerintahan termasuk penyebaran agama. Pengaruh-pengaruh fisik dan psikologis tidak bisa diabaikan begitu saja.

Dalam konteks agama misalnya, penyebaran Islam yang sedemikian meluas hari ini di Kalimantan Barat merupakan pengaruh dari kewibawaan sebagai Sultan dan kepiawaian istana melakukan dakwah. Ada beberapa contoh kasus memperlihatkan bahwa penyebaran Islam digerakkan melalui istana, misalnya perkembangan Islam di Kapuas Hulu digerakkan oleh istana Sintang (Hermansyah 2003).

Sejarah itu berlanjut sampai hari ini. Walau kehadiran penjajah sempat melumpuhkan kekuasaan Raja-Raja Melayu dan walaupun politik orde lama dan orde baru untuk sementara berhasil menekan peranan politik Melayu, namun, peran Politik Melayu di Kalbar begitu ketara sampai hari ini.

Dari segi jumlah, terjadinya mobilitas vertikal (menjadi Melayu seperti Raja-Raja mereka) membuat jumlah orang Melayu terus bertambah. Walaupun bilangannya tidak dapat disebutkan, secara kasat mata pertambahan-pertambahan karena proses Islami cukup signifikan. Beberapa catatan memperlihatkan bahwa gelombang konversi ini terjadi secara massal. Ada beberapa kampung misalnya semu penduduknya memeluk Islam dan menjadi ‘Melayu baru’.

Jumlah ini dibaca secara politis. Jumlah ini menjadi representasi kekuatan orang Melayu dan hak-hak yang harus mereka peroleh. Perebutan jabatan politik di Kalimantan Barat terutama dengan orang Dayak dilakukan secara terbuka, kadang-kadang juga kompromistis. DiĀ  beberapa daerah kabupaten, karena jumlahnya yang relatif banyak, orang Melayu merasa merekalah yang paling berhak memimpin. Sebut misalnya, di Kota Pontianak, Kabupaten Pontianak, Kabupaten Sambas, Kabupaten Kapuas Hulu dan Kabupaten Ketapang serta untuk level provinsi.

Meskipun pada tataran politik praktis sebenarnya perebutan kekuasaan politik tidak sepenuhnya terjadi karena ideologi etnisitas (karena kerap kali melibatkan ideologi), tetapi membicarakan politik lokal hampir tidak mungkin membicarakan politik lokal tanpa menyebut kekuatan politik Melayu.

Ironinya, walau orang Melayu sedemikianĀ  penting dalam wacana prasejarah, sejarah dan politik lokal Kalimantan Barat hari ini, namun, informasi mengenai orang Melayu masih samar-samar. Bahkan meskipun terdengar agak berlebihan banyak orang mengatakan bahwa hampir tidak ada tulisan akademik yang membicarakan Melayu di Kalimantan Barat secara baik. Informasi yang ada sifatnya masih dalam bentuk kepingan-kepingan yang berserakan (Yusriadi 1998).

Apakah yang orang ketahui tentang Melayu di Kalimantan Barat ? Siapa orang Melayu ? Bagaimana persebarannya ? Bagaimana variasi antar sub-sub itu ? Apa ciri bersama mereka ? Mengapa Melayu identik dengan Islam ? Berapa jumlah orang Melayu ? Kalau mereka identik dengan Islam mengapa orang Melayu hanya 39 % saja sedangkan orang Islam di Kalbar lebih dari 60 % ? Bagaimana menjelaskan perbedaan itu ?

Harus juga di akui bahwa selama ini asal usul Melayu juga kerap membingungkan. Yang manakah Melayu asli ? dan yang mana Melayu ‘campuran’ ?. Apa perbedaan antara Melayu yang terhasil dari asimilasi dengan orang Jawa, Bugis, dll, Melayu, Jawa, dll. dibandingkan dengan Melayu yang terkonstruksi dari proses koversi Dayak menjadi Islam ?

Tulisan-tulisan yang ada dalam buku ini berusaha menjawab sebagian dari pertanyaan penting itu, sekaligus mengisi kebutuhan informasi mengenai masyarakat Melayu di pulau KalimantanĀ  Barat. Sebagian, karena amat disadari bahwa diskursus tentang Melayu di Kalbar begitu kompleks, tidak sederhana. Bahkan meskipun buku ini hanya membahas tema budaya Melayu di Kalbar dengan sempurna.

Gambaran yang ditulis dalam buku ini memperlihatkan di Kalimantan Barat bahwa orang Melayu tersebar di beberapa wilayah, tidak saja di kawasan pantai seperti yang dibayangkan orang selama ini, tetapi juga di pedalaman. Sekalipun secara umum ada ikatan yang mempersatukan orang Melayu (agama dan bahasa, misalnya) namun variasi antar Melayu juga muncul. Tulisan Yusriadi tentang perkawinan Melayu Embau, tulisan Tarmizi Karim tentang adat istiadat perkawinan Melayu Sambas, Tulisan Gusti M. Fadli tentang adat perkawinan Melayu Sintang, tulisan M. Dardi D. Has tentang adat perkawinan Melayu Ketapang merupakan contoh nyata. Empat tulisan mengenai empat sub-kelompok Melayu ini memperlihatkan perbedaan-perbedaan yang cukup menyolok: istilah yang digunakan, syarat-syarat dan ketentuan penyelenggaraan, alat-alat atau bahan pendukung yang diperlukan, serta filosofi dan landasannya.

Perbedaan atau ciri khas sub-kelompok makin ketara diperlihatkan melalui tulisan Zahry Abdullah dan Hermansyah tentang upacara dalam kehamilan dan kelahiran masyarakat Melayu Ulu Kaapuas, tulisan Iskandar M. haris tentang upacara tumpang negeri di Landak, tulisan Dedy Ari Asfar mengenai upacara pengobatan Bemanang di XCupang Gading, tulisan A. Alexander mengenai upacara muar wanyik yang membandingkan antara Melayu Sambas dan Dayak Desa di Sintang, tulisan Moh Haitami Salim trentang upacara adat Melayu Pontianak dan tulisan Pabali Musa tentang nilai-nilai dalam upacara adat Melayu.

Ciri khas ini tentu saja harus diakui hanya menghasilkan gambaran mentah mengenai masing-masing sub-kelompok Melayu (kecuali perbandingan yang dilakukan A. Alexander). Kelak bahan-bahan itu masih harus dibandingkan antar satu dengan yang lainnya, sehingga memberi wawasan yang cukup untuk mengetahui perbedaan antar satu dengan yang lain. Kekurangan ini membuka ruang penulisan dan upaya-upaya akademik berikutnya di kemudian hari. Karena itulah peringatan dan saran yang disampaikan Nur Iskandar melalui tulisannya yang berjudul upacara adat Melayu dalam perspektif media menjadi penting dijadikansebagai bahan renungan.