Berharap Sape’ Juga Diajarkan di Kelas Formal (Konservasi seni budaya ala Borneo Culture Indonesia)

Posted: Maret 14, 2010 in alat musik sape, marketing comunication BCI


~Tulisan dan Foto ini di sadur dari Surat Kabar Pontianak Post, di halaman muka/utama, Minggu 14 Maret 2010, Tulisan ini ditulis oleh Efrizan Rzeznik.

Sape’ mulai tergerus zaman. Anak muda sekarang lebih banyak tahu tentang gitar listrik dibanding alat musik tradisional petik Dayak ini.

Jari Christina N. Pomianek “menari” di atas dawai. Jarinya masih kaku. Kelihatan jelas kalau dia masih belum terbiasa memetiknya. Namun begitu, semangat belajarnya agar mahir bermain Sape’ cukup tinggi. Pengajar di University of Missouri, Amerika Serikat ini merupakan salah satu murid yang tengah mengikuti kursus Sape’ di Borneo Culture Indonesia (BCI).

Ada enam siswa yang tengah belajar Sape’ Sabtu (13/3) itu. Mereka masih berusia muda. Lokasi tempat mereka belajar juga spesial. Langsung dari rumah Betang, Jalan Soetoyo, Pontianak. Hari itu juga sekaligus sesi pemotretan untuk dokumentasi mereka.

Itu membuat aura belajar-mengajar menjadi berbeda. Tempat itu seakan mengajak mereka kembali ke alam. Menyati di dalamnya. Berkomunikasi dengan alam lewat dentingan dawai Sape’. Karena itulah, sesi kali ini memang di buat berbeda.

Para siswa belajar di bawah bimbingan Christian Mara. Mara merupakan salah satu dari sedikit pemain Sape’ yang masih eksis di Kalbar.

Keahlian Mara dalam bermain dan membuat Sape’ sudai diakui oleh dunia internasional. Sarawak, Malaysia, paling menyukai hasil karya Mara. Order pun kerap ia terima.

Jika Mara menjual Sape’ nya berkisar Rp.700 ribu- Rp 1 juta di dalam negeri, sangat berbeda jika sudah dijual lagi oleh Malaysia dan dilabel made in Malaysia. Harganya sudah berlipat-lipat.

Sambil memetik dawai Sape’, Mara berdendang. Ia mencontohkan tehnik-tehnik dasar memetik dawai Sape’ kepada muridnya. Kali ini, dia hanya mengajarkan musik untuk hiburan. Belum masuk ke petikan yang lebih rumit. Seperti dipakai dalam upacara-upacara ritual.

Christina Pomianek merupakan salah satu murid BCI yang belajar Sape’. Terasa spesial, karena dia bukan asli pribumi. Cewek berambut pirang asal Lake Saint Louis, Missiouri, Amerika Serikat ini mengaku tertarik belajar Sape’ karena keunikannya.

Sudah enam minggu Christina berada di Pontianak. Tersisa 16 minggu lagi baginya untuk banyak belajarbadat dan budaya di Bumi Khatulistiwa.

Di Pontianak, Christina sedang melakukan penelitian tentang Credit Union untuk keperluan akademisnya sebagai Ph.D Candidate and Graduate Instructor Departemant of Missiouri, Amerika Serikat.

Christina memang menyukai alat musik tradisional. Sebelumnya di Amerika Serikat, dia juga pernah belajar alat musik gamelan. Untuk alat musik modern, ia menguasai piano.

Menurutnya, musik merupakan bahasa universal. Melalui musik, kata dia, setidak-tidaknya bisa mencerminkan suatu kebudayaan. “Saya sebelumya belum pernah memainkan Sape’. Baru belajar kali ini”, kata perempuan yang cukup fasih berbahasa Indonesia ini.

Jika sudah mahir kelak, ia ingin menularkan ilmunya ini ke masyarakat Amerika Serikat, utamanya untuk mahasiswa yang di bimbingnya. agar mereka juga mengenal salah satu khasanah kesenian dan budaya Borneo.

Pimpinan Borneo Culture Indonesia Herfin Yulianto mengatakan, kursus Sape” yang diselenggarakan pihaknya ini baru memasuki angkatan pertama.

Dipilihnya kursus Sape’ ini, kata dia, berangkat dari keprihatinan minimnya generasi muda untuk belajar dan melestarikan alat musik tradisional di daerah ini.

“Mereka yang betul-betul menguasainya hanya sedikit. Bahkan, saya dengar, negara lain seperti Malaysia sudah eksis dan menggiatkan pengenalan musik tradisional ini ke masyarakatnya”, kata Herfin.

Herfin mengatakan, siapapun bisa mengikuti kursus ini. Bisa juga untuk kalangan corporate dan para siswa sekolah. Program kursu belajar Sape’ ini juga dikemas pihaknya dengan menarik dan menyenangkan untuk diikuti.

“Dalam pemberian materi, juga dikenalkan budaya-budaya DAyak lainnya sehingga siswa bisa juga mengenal adat dan istiadat”, katanya. Selain kursus Sape’ BCI yang beralamat di Jalan RE Martadinata Nomor 12, Pontianak ini jugamenyelenggarakan kursus emsambel musik Dayak.

Pada program belajar Sape’, peserta kursus mendapatkan materi teori  dan praktek tentang tehnik-tehnik bermain musik Sape’ Dayak. Program belajar Sape’ wajib diikuti peserta selama 24 kali pertemuan atau selam 3 bulan.

Proses belajar du ruang studio dibimbing instruktur profesional, dengan fasilitas kelas lengkap. Juga refresentatif untuk berkreasi. Agar prose belajar kelas kursus lebih fokus, maka satu kelas kursus sengaja di batasi.

“Pada akhir program belajar, akan di buatkan pagelaran Sape’ dengan menampilkan para peserta kursus”, kata Herfin, yang sebelumnya melalui Komunitas Kebun Kopi, sukses menggelar pentas tunggal musik perkusi “Kaki Rimba” di Taman Budaya, Pontianak, beberapa waktu lalu.

Herfin menambahkan, konservasi seni budaya borneo memang merupakan fokus utama BCI. Tak heran, pihaknya juga membuka kursus ensambel musik Dayak.

Penggiat budaya dan kesenian Dayak Christian Mara ikut prihatin dengan masih minimnya perhatian generasi muda untuk melestarikan kesenian tradisional. ” Kita memeng bertempur dengan modernisasi. Untuk itulah saya bergabung dengan BCI guna mengajar kursus musik Sape”, kata pria yang kerap tampil dalam promosi wisata dan budaya Kalbar di luar negeri ini.

Agar digandrungi generasi muda dan menjawab kebutuhan zaman, mara juga membuat Sape’ modifikasi yang biasanya hanya berjenis akustik menjadi elektrik. “Bisa dicolokkan ke pengeras suara dan dipadukan dengan band”, katanya.

Tak hanya di kelas informal saja, Mara berharap kesenian tradisional seperti pelajaran bermain musik Sape’ juga diajarkan kepada murid-murid di kelas formal. “Jangan sampai Sape’ hilang ditelan zaman”, ujarnya.**

Komentar
  1. Minto mengatakan:

    sape’ best instrument borneo…
    terus berkarya bg mara!!

  2. Andi Dacosta Putra Duata mengatakan:

    Buat bang Mara semakin exis menjaga kelestarian musik sape’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s