Religiusitas & Eksotisme Budaya Dayak Kalimantan Barat (Resensi Buku)

Posted: Desember 11, 2010 in resensi buku Dayak
Tag:

Judul buku : Religiusitas & Eksotisme Budaya Dayak Kalimantan Barat. Pengarang: Paulus Florus. Desain layout: Stera Maman Soba. Juru Foto: Bong Felix Hendrayanto, Andre Kurniawan OP. Penerbit: Yayasan Santo Martinus de Porres bekerjasama dengan CRID (Centre for Research and Inter-Religius Dialogue).

Pemuda penari itu melompat tangkas sambil mengayun mandau sepanjang sekitar satu meter. Ia memakai cawat dan ikat kepala berwarna dominan merah. Tato di dada, paha dan lengannya menambah penampilan sehingga semakin gagah. Kemudian ia melompat lagi sambil berteriak panjang melengkin keras. Lalu tampillah empat gadis penari yang gemulai menirukan gerakan petani menanam benih. Gadis-gadis bertubuh sintal itu mengenakan pakaian dari tenun warna-warni, gelang dan kalung dari untaian manik-manik. Sungguh serasi dengan warna kulit mereka yang kuning gading dan licin. Dentaman musik perkusi dan gong yang mengiringi dengan irama amat dinamis membuat tarian itu semakin memukau dan seperti membius para penonton.

Di tempat lain, dalam kehidupan sehari-hari, sekelompok lelaki dan perempuan sedang menugal di ladang. Kaum lelaki berbaris di depan, dan dengan gesit menumbukkan kayu tugal untuk membuat lobang-lobang kecil di tanah, tempat benih harus ditaburkan. Di belakang mereka, kaum perempuan tak kalah gesit, memasukkan butir-butir benih padi ke dalam lubangtugalan. Sambil bekerja mereka berbicara atau bercerita tentang berbagai pengalaman bertani. Sekali-sekali ada juga senda gurau hiburan pemecah keseriusan. Terik panas matahari tidak terlalu dirasakan, meski menimbulkan peluh di wajah dan membasahi pakaian yang melekat di tubuh mereka. Warna hitam arang dan abu pembakaran ladangseakan-akan menjadi bedak hiasan pada kaki dan tangan mereka.

Sementara itu, di halaman rumah betang panjang di kampung, sekelompok anak sedang bermain pondok-pondokan. Mereka melakonkan kehidupan sebagaimana mereka lihat dan alami. Dua anak perempuan memungut dedaunan dan ranting-ranting kering. Lalu mereka menyalakan api, membuat tungku dari bongkah batu kecil, dan mulai memasak dedaunan yang dianggap sebagai sayuran, Seorang anak lelaki berhasil mengambil sebuah jantung pisang. “Lihat! Saya dapatkan seekor babi,” katanya banggakepada teman-temannya. “Cepat dimasak untuk gawai kita.” Teman-temannya bersorak gembira menyambut kedatangan pemburuitu. Sejurus kemudian, mereka berpura-pura makan, namun tak lama, adegan permainan berganti. Mereka bermain pengobatan. Seorang anak melakonkan orang sakit. Dia berbaring sambil mengerang beberapa kali. Anak yang menjadi ‘dukun’ mengambil beberapa helai daun kelapa untuk dijadikan ikat kepala, lalu menari-nari mengelilingi si sakit. Kemudian sang dukun mengibas-ngibaskan daun pisang ke atas tubuh si sakit sambil berguman melafalkan sembarang mantera. Si sakit lalu terbangun, mengusap matanya dan terbaring lagi. “Saya belum sembuh,” katanya. Lalu sang dukun tadi berubah perang. Dengan gaya seperti menemukan gagasan penting ia berucap: Saya jadi pastor saja. Dulu kakek saya sembuh diobati oleh pastor,” Lalu ia mengucapkan doa sambil memerciki teman-temannya dengan air. Tak lama kemudian, Hore ! Saya sembuh!” teriak anak pelakon si sakit sambil melompat girang.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

cuplikan lembar buku tersebut

Tiga adegan di atas mengambarkan sekilas tentang kekayaan khasanah budaya Dayak, khususnya Kalimantan Barat. Ketika masyarakat Dayak masih di rumah-rumah betang panjang, budaya mereka terus berkembang dan diwariskan secara wajar dari generasi tua kepada generasi muda. Di rumah betang panjang terjadi proses pembudayaan yang intens. Cerita lisan dituturkan. Prosa liris dilantunkan. Musik dimainkan, Tarian ditarikan. Pengobatan dilakukan. Pesta-pesta dilangsungkan. Perkara adat digelarkan. Pekerjaan-pekerjaan menganyam, mematung, menenun, mengisar dan menumbuk padi, memasak makanan, mengasuh dan mendidik anak, membuat berbagai perabot rumah tangga, berbagi daging binatang hasil buruan, dan sebagainya, berlangsung menyatu dalam keutuhan proses pembudayaan itu.

Bagi orang luar yang belum memahami, wujud-wujud budaya Dayak sering di anggap magis, berhala atau kolot. Banyak misionaris Kristen ketika menyebarkan agama di kalangan masyarakat Dayak, karena ketidakpahaman, melakukan pemusnahan unsur-unsur budaya yang dianggap sebagai berhala. Patung-patung dibakar. Cara pengobatan tradisioanal dilarang. Hukum adat dimandulkan. Yang relatif aman adalah benda-benda hasil tenunan, anyaman dan alat-alat pertanian. Syukurlah kemudian muncul pemahaman dan kesadaran inkulturasi (penjiwa-badana ajaran melalui adat istiadat), terutama dalam Gereja Katolik. Kesadaran ini turut menyelamatkan budaya dayak. Para misionaris Kristen semakin memahami relegiositas budaya Dayak.

Peran para misionaris itu dalam pengembangan peradaban Dayak di Kalimantan Barat adalah fakta sejarah tak terbantahkan. Para misionaris itu tidak hanya mewartakan ajaran agama, tetapi juga memajukan pendidikan formal, meningkatkan kesehatan, mengembangkan seni budaya dan meningkatkan taraf hidup sosial-ekonomi.

Namun ada serangan lain terhadap budaya Dayak. Ini sesungguhnya akibat dari kebijakan politik Negara. Pada dekade 1960-an, ketika Indonesia berkonfrontasi dengan Malaysia, hampir semua rumah betang panjang di Kalimantan Barat dibongkar. Ada kesalahpahaman politis yang menganggap masyarakat rumah betang panjang menganut paham komunisme. Stuktur bangunan rumah betang panjang juga dianggap tidak sehat bagi penghuninya. Oleh tekanan politis itu, masyarakat Dayak Kalimantan Barat beralih membangun rumah-rumah tunggal keluarga. Perubahan pola pemukiman ini tanpa sengaja melenyapkan sistem pewarisan budaya Dayak. Dewasa ini, walau agak terlambat, kesadaran Pemerintah dan masyarakat Dayak sendiri untuk menghargai budaya Dayak semakin menguat terutama untuk kepentingan industri pariwisata.

Di Kalimantan Barat ada sekitar 150-an sub suku Dayak, yang masing-masing memiliki kekhasan budaya. Tetapi semua religius sekaligus excotik: penuh daya tarik dan menantang untuk dipahami lebih dalam. Religius, karena unsur-unsur budaya itu selalu mengandung pemujaan dan doa kepada Yang Mahakuasa. (dalam budaya Dayak, ada berbagai sebutan Tuhan Mahakuasa menurut masing-masing sub-suku: Jubata, Penompa, Raja Juwata, Petara Guru). Sedangkan Excotisme budaya Dayak terutama tampak dalam tampilan indah berbagai peralatan, seni tari, seni ukir, seni anyam, seni musik, berbagai upacara adat dan sikap terhadap alam sekitar.

Semoga foto-foto yang di tampilkan pada halaman-halaman di buku ini memberikan gambaran tentang religiusitas dan eksotisme itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s