Tradisi Musikal dalam Kebudayaan Dayak — oleh Al. Yan Sukanda

Posted: Desember 29, 2010 in article musik tradisional

Pendahuluan

Memahami tradisi musikal dalam budaya Dayak ibarat menyelam ke dalam sebuah danau untuk melihat kehidupan di dalamnya. Hampir mustahil melihatnya tanpa bersentuhan dengan unsur-unsur budaya lain, dan hampir mustahil juga untuk memahaminya tanpa hidup dalam nafas keseharian mereka. Musik dalam tradisi Dayak sulit dipisahkan dari kesenian lainnya, terutama seni tari. Bersama dengan ritus-ritus tertentu, semua itu saling berkaitan dan berhubungan erat satu sama lain.

Dewasa ini banyak aspek penting dari musik tradisional Dayak telah hilang, mengalami perubahan atau pergeseran karena berbagai faktor. Aspek-aspek tersebut terutama menyangkut nilai, tujuan, latar belakang dan sifat dasar penampilannya.

Ada beberapa bagian dari musik tradisional yang kurang diperhatikan orang, misalnya alat-alat gong. Alat ini dan alat-alat musik tradisional Dayak menyimpan nada-nada yang masa lalu yang merupakan bagian jiwa tradisi musikal tersebut, walaupun kemungkinan perubahan karena faktor usia alat sangat besar. Melalui alat-alat tersebut dan seni-seni vokal atau seni tutur yang di nyanyikan, nada-nada (tangga nada) diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Selain untuk sifat dan tujuan penghadirannya, pemahaman akan hal-hal tersebut sangat penting, mengingat ‘jiwa’ musik tradisional terwujud dan menjadi ciri khas dari tujuan, sifat musik dan unsur musikalnya.

Dalam pewarisan tersebut, berbagai perubahan, pergaulan, pengaruh dan penyesuaian tradisi terjadi, sampai menjadi bentuk yang dikenal sekarang ini. Kehidupan masyarakat Dayak tak lepas dari pengaruh dan pergaulan dengan kelompok-kelompok budaya lain, baik pada masa jayanya kerajaan-kerajaan di nusantara, kolonialisasi bangsa barat, maupun kemerdekaan. Pengaruh lain adalah penerimaan ajaran agama resmi, kesadaran akan arti pendidikan bagi generasi muda, dan kehadiran perusahaan-perusahaan besar, telah membuat kebudayaan Dayak semakin kerap mengalami ‘ujian’.

Tulisan ini lebih merupakan deskripsi untuk memahami musik Dayak sebagai suatu tradisi dan kondisi umumnya pada saat ini. Dalam pembicaraan ini lebih sering diulas bentuk, istilah, dan contoh budaya musik Dayak dari daerah Ketapang yang telah beberapa kali saya teliti.

Walaupun tidak banyak hasil penelitian ilmiah yang di publikasikan tentang musik tradisional Dayak, terutama mengenai ciri-cirinya, saya mencoba membandingkan juga tulisan-tulisan yang berhasil saya kumpulkan selama hampir empat tahun belakangan ini. Dengan memiliki pemahaman yang baik dan benar diharapkan tradisi musik yang khas dan kaya ini dapat berkembang sebagai salah satu ciri kebudayaan Dayak.

Musik Dayak

Musik tradisional Dayak merupakan salah satu aspek dari kebudayaaan Dayak yang memiliki bentuk dan ciri-ciri khas pada tiap kelompok. Walaupun demikian, pada hampir semua kelompok ada ciri-ciri dasar yang sama atau mirip, bahkan dengan musik kelompok masyarakat tardisional lain di Asia Tenggara.

Tradisi berladang tampaknya menjadi semacam pusat yang menentukan kehidupan tradisi musik Dayak. Walaupun tidak semua kegiatan atau ungkapan musik ditujukan pada kegiatan perladangan, namun ada   tradisi tertentu yang membuat ikatan tak terlepaskan antara kegiatan musik tersebut dengan perladangan. Kegiatan musik tradisional kebanyakan menjadi bagian dari suatu upacara, yang memerlukan pembiayaan dari hasil ladang. Upacara-upacara besar yang banyak memerlukan biaya biasanya diselenggarakan setelah panen ladang. Di daerah Ketapang Kalimantan Barat, pesta ini adalah juga tempat untuk bermusik dan menari.

Dalam kehidupan sehari-hari terdapat musik-musik yang ditampilkan bukan untuk perladangan, tetapi untuk upacara-upacara dalam siklus kehidupan. Kebanyakan merupakan musik khusus untuk ritus atau masa tertentu dan tidak boleh dimainkan pada sembarang waktu dan sangat erat hubungannya dengan sistem kepercayaan mereka.

Musik Dayak hampir tidak pernah diangkat menjadi bagian dari suatu tradisi besar seperti tradidi keraton atau bagian yang lebih besar dari kelompok lokal. Sifat masyarakat Dayak yang genealogis, terutama pada masa lalu, menyebabkan kebudayaannya berkembang dalam lingkup-lingkup kecil saja. Walaupun di Kalimantan pernah ada kerajaan-kerajaan seperti Kutai, Brunai, Tanjungpura, Pontianak, atau masa kolonial, namun tradisi musik Dayak tidak pernah diangkat menjadi bagian tradisi tersebut. Hal ini menyebabkan musik tradisional Dayak masih dalam ciri komunalnya yang hidup dalam suatu tradisi kecil sampai sekarang, dan mungkin itu sebabnya pengaruh asing hampir tidak di jumpai dalam musik tradisional Dayak.

Dalam pewarisannya, musik Dayak tidak menggunakan sistem tulis (non-literate). Juga tidak ditemukan sistem lambang untukpermainan musiknya. Kesenian dalam tradisi Dayak lebih merupakan ungkapan kebersamaan kelompok sehingga kelanjutan kehidupannya sangat tergantung pada situasi dan kondisi kehidupan masyarakat pendukungnya. Tentang sistem pewarisan tradisi musik tersebut Hose menulis sebagai berikut.

” At about fifteen years, or rather earlier, the boys begin to assert their independence by clubbing together with those of their own age, and taking up their sleeping quarters with the bachelors in the gallery. At an earlier age the children have picked up a number of songs and spontaneously sing them in a group, but now they begin to develop their powers of musical expression by practicing with the keluri, mouth-harp, drum, and gong.” (Hose, 1988: 64)

Beberapa Ciri Penting

Secara umum musik Dayak, seperti halnya dengan musik-musik tradisional lain di Asia Tenggara, didominasi oleh musik-musik perkusif. Gong merupakan alat yang paling utama dan terdapat pada hampir semua kelompok Dayak. Gong tersebut ditemukan dalam berbagai tipe dan ukuran serta dipakai dalam jumlah yang bervariasi. Di kalangan Dayak ditemukan, paling tidak, lima tipe gong, yitu:

a. tipe gerantung (gong besar), gong berukuran besar, sisi rendah, nada rendah, karakter suara lembut dan beralunan panjang.

b. tipe tawak (gong panggil), karena gong tipe ini biasanya digunakan juga sebagai alat komunikasi (pemberitahuan) apabila ada kematian, bencana, tamu pesta dan lainnya. Suaranya tegas hampir beralunan pendek dan ukurannya agak kecil. Ciri khasnya adalah ukuran sisi dan pencunya yang tinggi. Alat ini disebut juga ketawak, tetawak atau ogong.

c. tipe bondi, dengan ciri ukuran sama atau sedikit lebih kecil daripada tawak. Sisi dan pencunya rendah, permukaaan sekitar pencu kebanyakan tidak ada lekukan melingkar. Suaranya lembut dan merdu. Disebut juga dengan nama bebondi, bendai, bandai, canang.

d. tipe boring (gong datar), gong dengan permukaan yang datar. Suaranya bergetar nyaring (deper). Nama-nama lainnya adalah boring-boring, gentarai, pu um.

e. tipe kelintang (gong-gong kecil horisontal), berbeda dengan tipe-tipe terdahulu yang posisinya di gantung  ketika di mainkan, alat tipe ini terdiri dari beberapa satuan gong kecil (antara 5 sampai 9 satuan) yang disusun pada sebuah rak resonansi. Suaranya tinggi dan nyaring dan kebanyakan berfungsi sebagai alat melodi. Disebut juga dengan nama engkeromong, keromong, kangkanong, klentangan.

Alat musik logam lainnya yang masih dapat di temukan pada beberapa kelompok, namun tidak tersebar secara merata, antara lain: rahup (sejenis simbal kecil) dan sejenis saron. Alat-alat perkusi lain adalah alat-alat musik dari bambu, seperti togunggak, peruncong, sengkurung, senggayung dan lain-lain.

Ciri kedua adalah adanya tehnik dengung atau drone, yaitu tehnik permainan musik dimana terdapat alat bernada tertentu yang dimainkan dengan suatu ritme, sementara terdapat alat lain (ataupun alat itu sendiri) yang memainkan melodi. Tehnik dengung terdapat pada hampir semua musik tradisional Dayak. Pada musik ansambel gong, tehnik  ini terutama dimainkan oleh alat-alat gong yang di gantung sehingga membentuk semacam ostinato. Selain itu, pada alat jenis kledi (atau keluri, kaldii’, engkururai, seredam, sompotan, dan nama-nama lainnya), sangat jelas juga dijumpai sistem dengung. Bunyi dengung yang jelas terdengar adalah pada musik Sape’, yang dihasilkan oleh dawai kedua dan seterusnya, atau oleh pasangan Sape yang lain.

Dengung dapat menjadi bunyi yang kompleks karena di hasilkan oleh beberapa alat yang dimainkan dengan ritme dan nada yang berlainan. Kadang-kadang menjadi semacam melodi yang diulang-ulang. Terutama pada ansambel perkusi, bunyi ini di hasilkan oleh tehnik permainan saling pengisian ritme di antara alat-alat yang dimainkan, dalam istilah tradisional disebut ngait (ngipa’, ningka’). Tehnik ini juga umum dijumpai dalam permainan musik Dayak, dan kita beri istilahtehnik kait. Tehnik ini membentuk semacam kontrapung diantara alat-alat yang dimainkan.

Seseorang Etnomusikologi berkebangsaan Amerika, William P.Malm, mencatat bahwa sebagian besar nada dalam musik Kalimantan (Borneo) tidak berbasis pada tangga nada tradisional Jawa, melainkan menggunakan tangga nada dengan lima nada yang tidak memiliki jarak nada setengah, yang disebut anhemitonic-pentatonic (Malm 1967: 24). Beberapa pihak kemudian mengunakan patokan bahwa musik tradisional Dayak bertangga-nada pentatonis, seperti yang dikatakan Malm. Walaupun pendapat tersebut benar, namun ternyata juga terdapat tangga nada pentatonis dengan beberapa interval nada yang sangat dekat dengan setangah nada (hemitonic-pentatonic), dan dalam permainan (terutama pada musik Sape’) tampak adanya penggabungan kedua jenis tangga nada tersebut. Ini menunjukkan bahwa musik tradisional Dayak tidaklah sederhana. Ciri musik dengan kedua tangga nada tersebut juga dituliskan oleh Ivan Polunin dan Tanya Polunin (lihat Malaysia dalam Sadie, 1980: 562), walaupun tanpa penjelasan mendalam.

Musik Tradisional Dayak Masa Kini

Telah banyak kajian tentang keadaan dan perubahan kebudayaan Dayak pada abad ini maupun abad yang lalu. Bermacam-macam pengaruh dan tampak dari luar telah diteliti. Berikut ini akan kita lihat sebagian kecil dari perubahan dan faktor-faktor yang mempengaruhi bentuk dan kehidupan tradisi-tradisi asli masyarakat Dayak, terutama yang berhubungan dengan tradisi musikalnya.

A. Pergeseran Nilai

Kesenian yang banyak dikembangkan adalah kesenian tontonan demi hiburan. Dengan demikian kesenian dapat kehilangan spiritnya, yang justru menghidupi manusia  sejak lama (bdk.Poepowardojo, 1989: vii). Pada kebanyakan musik tradisional Dayak, segi spritual maupun segi ritual merupakan hal yang kelihatan jelas. Namun sebagian kesenian Dayak dari panggung upacara tradisi, di mana keterlibatan seluruh anggota komunitas adalah sangat penting, mulai menampakkan diri bergerak menuju panggung hiburan yang mengutamakan aspek estetis demi tontonan belaka. Banyaknya sanggar kesenian menunjukkan dengan jelas hal tersebut. Tanpa bisa dipungkiri, gejolak untuk mengubah atau menata bentuk ungkapan kesenian tradisional oleh kaum muda Dayak, lahir dari kegiatan untuk memelihara agar nilai-nilai estetik peninggalan nenek moyang tetap hidup dan dihargai orang lain.

Selain itu ada kebosanan atau perasaan bahwa ritus tradisi musik terlalu sederhana, tidak relevan lagi dan tidak memperhatikan aspek  estetik yang dimengerti secara umum, sehingga timbul keinginan untuk melakukan perubahan, walau dengan resiko penyimpangan dari sifat aslinya. Pergeseran nilai dan fungsi tadi, menurut banyak ahli, pada akhirnya tidak akan dapat ditolak atau dihindari. (Coomans, 1987:199).

B. Keadaan Alat Musik

Entah sudah berapa jenis musik tradisionak Dayak yang telah hilang, mengalami krisis atau berubah, karena kerusakan dan kepunahan alat, perkembangan masyarakat Dayak sendiri dan pengaruh luar yang cukup kuat. Cukup banyak musik kuno Dayak yang pada saat ini berada dalam kondisi antara ada dan tiada. Di daerah Ketapang pernah dikenal alat musik dawai yang digesek, alat semacam zither dari bambu, alat jaws harp (jungkih,jinggong), beberapa alat tiup dan mungkin masih ada yang lain, yang kini tinggal cerita. Alat-alat tersebut merupakan kekayaan budaya Dayak yang telah hilang.

Keadan alat musik menentukan pengetahuan dan teori tentang musik tradisional. Sejarah gong sebagai perangkat dalam tradisi Dayak secara pasti juga belum diketahui, padahal alat ini menempati posisi penting di dalam tradisi musikal, sosial, ritual (lih. Sukanda, 1982). Dari beberapa hasil pengukuran terhadap gong yang telah dilakukan sampai saat ini belum didapatkan kesimpulan yang memuaskan mengenai susunan nada yang jelas dari alat-alat tersebut. Meskipun demikian, alat-alat tersebut masih dapat digunakan dan dirasa cocok. Ini juga merupakan salah satu keunikan dari musik tradisional. Asumsi bahwa pada masa lalu terdapat semacam standar musik yang sama memang harus dibuktikan dengan penelitian yang panjang. Hal ini penting, selain sebagai studi tentang sejarah masa lalu (kesenian) Dayak, adalah untuk menentukan ciri dan bentuk musik Dayak yang baik dan asli di masa mendatang, terutama melalui pembuatan perangkat alat musik yang baru.

C. Pembangunan Ekonomi

Kesenian bagi masyarakat Dayak tradisional tidak hanya merupakan ungkapan keindahan atau ekspresi estetis semata. Melalui kesenian orang Dayak berhubungan dengan sesamanya, dengan alam dan lingkungan hidupnya serta dengan penguasa jagat raya. Oleh  sebab itu, kesenian memiliki makna yang sangat mendalam. Pembangunan yang mengabaikan kebudayaan secara utuh. Program-progaram peningkatan taraf hidup masyarakat, seperti proyek terpadu Perkebunan Inti Rakyat dan Transmigrasi (PIR-Trans) juga akan berpengaruh pada kebudayaan Dayak, termasuk di dalammya tradisi musikal. Program itu mengabaikan sistem kebudayaan tradisional setempat yang telah mampu menghidupi orang Dayak sejak zaman dahulu (bandingkan dengan Dove, 1985: xxvii).

Hilangnya tradisi berladang secara langsung menghilangkan ritus-ritus yang berhubungan dengannya, paling tidak dalam bentuk dan sifatnya yang asli. Sebagai contoh, terdapat proyek perkebunan besar di daerah Kabupaten Ketapang yang berlokasi di tengah-tengah pemukiman masyarakat Dayak yang masih sangat kuat kehidupan tradisinya. Meskipun dikatakan akan meningkatkan taraf ekonomi dan kemakmuran rakyat, perencana dan pelaksana proyek tersebut telah mengabaikan kebudayaan tradisional mereka. Tradisi berladang menjadi terdesak terutama karena lahan yang semakin sempit.

D. Pendidikan

Sistem pewarisan yang lisan (oral-tradition) menjadi semakin lemah seiring meningkatnya kesadaran akan arti pendidikan formal tampak dari semakin banyaknya kaum muda dari daerah terpencil yang melanjutkan sekolah ke kota-kota kecamatan, kabupaten dan provinsi. Dengan demikian, keterlibatan dan hubungannya dengan sistem tradisi di kampung menjadi berkurang, bahkan cenderung akan terputus. Penguasaan dan pengertian tentang tradisi masyarakatnya menjadi berkurang.

E. Penerimaan Agama Kristen

Masuknya ajaran Kristen ke dalam masyarakat Dayak Mempercepat proses berubahnya beberapa tradisi musikal. Pandangan yang menganggap bahwa beberapa jenis ritus tradisi Dayak tidak sesuai dengan ajaran Kristen, telah menyebabkan kegiatan tersebut terkucil atau hanya di dukung oleh sekelompok orang.

Hilangnya ritus-ritus tradisi tersebut akan menyebabkan hilangnya musik yang menjadi bagiannya. Upacara bebelian, misalnya yang sarat dengan nilai seni dan nilai religi asli Dayak, telah sekian lama mendapat tekanan dan pengucilan. Ritus religi asli Dayak memang tidak terlalu dihargai oleh banyak pihak, termasuk oleh orang Dayak sendiri.

Penutup

Kesenian khas Dayak telah sering ditampilkan baik di daerah, di luar daerah, maupun di luar negeri. Banyak pihak menaruh perhatian terhadap hal tersebut. Kesenian Dayak memang telah mampu menarik minat dan perhatian orang luar karena keindahan dan kekayaannya. Sanggar-sanggar telah banyak berdiri dan tokok-tokoh pendirinya adalah orang-orang yang menaruh perhatian besar terhadap kesenian tradisional. Namun, apakah kehidupan tradisi musik dalam bentuk dan sifat aslinya sudah tersentuh? atau justeru terdapat sanggar kesenian yang malah menghindari ritus tradisi yang menampilkan musik? Apakah pendapat bahwa kemajuan berarti modernisasi dan meninggalkan semua yang ‘kuno’, animistis’, kolot, sudah benar sehingga tidak perlu dikoreksi?

Tradisi berladang yang telah di jalani orang Dayak sejak ratusan tahun silam mungkin dapat dikembangkan menjadi ladang menetap, dengan konsep ‘in site develovment’. Dengan demikian kehidupan tradisi seni akan lebih terjamin kehidupannya. Setiap kegiatan pembangunan yang baru hendaknya tidak dilaksanakan dengan tiba-tiba dan asumsi serta tuduhan negatif terhadap kebudayaan tradisional Dayak hendaknya tidak terburu-buru diberikan.

Suatu hal yang menjadi penting dalam usaha pemeliharaan musik tradisional Dayak adalah pemahaman yang integral terhadap budaya Dayak. Tetapi dewasa ini semakin sedikit orang yang dapat dan berminat memahami musik Dayak secara utuh. Pemahaman terhadap aspek budaya tradisional tersebut juga sangat penting bagi kalangan yang merencanakan dan menjalankan kebijaksanaan pembangunan agar unsur-unsur tradisi yang masih relevan tidak begitu saja di buang.

Sehubungan dengan proses pembangunan dan efeknya terhadap tradisi asli musikal, kegiatan-kegiatan pendokumentasian dan penelitian ilmiah penting dilakukan. Selain untuk mengembangkan pengetahuan mengenai suatu tradisi, juga agar dipahami berbagai aspek dalam tradisi tersebut. Pengalihan pengetahuan dan ketrampilan bermain musik tradisional dengan melibatkan pihak-pihak yang kompeten perlu lebih ditingkatkan.

Bagi orang Dayak, kesatuan genealogis sangat penting. Coomans (1987: 64) juga menyebutkan bahwa tidak ada suku Dayak yang muncul sebagai kesatuan yang utuh dan tidak ada pimpinan umum untuk keseluruhan seperti penguasa atau raja, seperti di kerajaan-kerajaan pada masa lampau. Kelompok-kelompok kecil lokal lebih memandang dirinya sebagai suatu kesatuan dengan kekuasaan dan adat sendiri. Dengan demikian kesenian atau tradisi seni berkembang dalam bentuk khas, walaupun proses difusi budaya pasti terjadi di dalamnya. Dengan keadaan seperti ini, usaha untuk menyatukan atau membentuk suatu musik yang merupakan gabungan (‘musik Dayak’) merupakan pekerjaan yang sulit; bahkan usaha tersebut dapat membuat semakin miskinnya musik Dayak.

Penelitian tradisi  musik Dayak dapat mencakup aspek-aspek material, ritual dan musikal. Masing-masing aspek memiliki kekhususan tersendiri. Aspek material lebih menekankan pada deskripsi instrumen (alat musik), pembuatannya, ornamen, bahan dan pemain. Aspek ritual lebih pada segi ritus, latar belakang dan tujuan penampilan suatu musik tradisional. Aspek musikal lebih pada segi-segi musik seperti ciri-ciri musik, jenis musik, tangga nada, ritme dan transkripsi serta analisis notasinya.

Apakah musik tradisional Dayak akan tetap dipelihara dalam konteks maknanya yang murni, atau akan menjadi musik (kesenian) panggung hiburan? Dan bagaimana pula bentuk musik Dayak kontemporer yang membanggakan? Dengan menyadari makna pembangunan yang seharusnya memperhatikan aspek-aspek kebudayaan tradisional, maka warga masyarakat Dayak akan semakin mampu menyusun strategi yang tepat agar masa depan mereka tidak menjadi “ke pucuk tak sampai, ke bawah tak jejak”.

Komentar
  1. rizal mengatakan:

    budaya dan adat istiadat masyarakat dayak juga milik bangsa Indonesia,,,oleh karena itu menjadi tugas kita semua sebagai generasi penerus untuk tetap menjaga eksistensinya.
    just GARUDA!

  2. BORIS (oNya Simpang Dua) mengatakan:

    jaga dan lestari kebudayaan dayak di kalimantan………………
    jangan sampe hilang……..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s