Rumah Panjang sebagai Pusat Kebudayaan Dayak — oleh S. Jacobus E. Frans L. & Concordius Kanyan

Posted: Januari 3, 2011 in arcticle rumah betang

Pengantar

Tulisan ini aslinya berjudul “Rumah panjang sebagai pusat kebudayaan pada masyarakat suku bangsa Dayak Iban dan Banuaka’ di Kecamatan Batang Lupak-Lanjak dan Embaloh Hulu Kabupaten Kapuas Hulu Kalimantan Barat (sebuah Perbandingan)”. Sesuai dengan ruang lingkup pembahasan, maka pokok-pokok pikiran yang terdapat dalam tulisan ini tidak harus berlaku bagi semua subsuku Dayak.

Pendahuluan

Kebudayaan Dayak terus mengalami perubahan karena pengaruh dari luar dan dari dalam. Beberapa program pembangunan dan pembaharuan, kurang menghargai nilai-nilai budaya yang hidup dan berkembang di dalam masyarakat Dayak. Para perencana dan pelaksana pembangunan kurang memahami pola kehidupan dan cara berpikir masyarakat Dayak. Contohnya adalah “rumah panjang” atau rumah betang orang Dayak, yang dipandang sebagai salah satu faktor pemhambat dalam pembinaan dan pengembangan masyarakat yang modern. Beberapa peneliti dan pengamat rumah panjang sering menonjolkan peranan rumah panjang dalam perang antar suku serta suatu cara beradaptasi dengan alam lingkungan sekitarnya. Sedangkan nilai-nilai peradaban lainnya, hubungan kekerabatan serta nilai budaya kurang mendapat perhatian.

Interpretasi demikian mengarah pada kesimpulan keliru yang menganggap bahwa rumah panjang yang masih ada dewasa ini hanyalah merupakan sisa-sisa peningggalan kebudayaan Dayak yang kurang relevan dengan pembangunan.

Mayarakat Iban dan Banuaka’ memandang rumah panjang sebagai saran penting untuk menjalani kehidupan bermasyarakat, dalam membina dan mempertahankan warisan budaya serta adat-istiadat yang merupakan nilai-nilai luhur yang ditaati dan dihormati secara turun menurun. Rumah panjang telah membentuk mempersatukan mereka dalam komunitas, dan berperanan pentingdalam pelaksanaan upacara-upacara adat.

Ada kenyataan pahit yang terdapat pada suku Banuaka’ yaitu mereka telah kehilangan banyakunsur budaya bersamaan dengan lenyapnya rumah panjang, walaupun mereka cukup berusaha mempertahankan tradisi dan adat-istiadat warisan nenek moyang yang telah menyatu dan menjiwai tata kehidupan mereka. Dengan pola pemukiman rumah tungga usaha memelihara tradisi budaya tidaklah mudah. Sebaga “pengganti” rumah panjang dibangunlah Blai Desa yang letraknya terpisah dari rumah-rumah penduduk, dan dikunjungi serta dimanfaatkan oleh masyarakat setempat pada waktu-waktu tertentu saja. Tetapi balai desa ternyata tidak mampu mengganti peranan rumah panjang.

Apabila kenyatan tersebut terus berlangsung, dikhawatirkan dalam waktu dekat generasi penerus suku Dayak akan kehilangan identitas budayanya atau tidak lagi memahami nilai budaya nenek moyang yang mereka miliki.

Pemukiman Masyarakat Iban

Masyarakat Iban termasuk subsuku Dayak yang tersebar di seluruh Pulau Kalimantan, baik yang termasuk wilayah Republik Indonesia maupun wilayah Sarawak-Malaysia Timur dan Brunei Darussalam.

Masyarakat Iban yang hidup dan bermukim di Kematan Batang Lupar-Lanjak dan Kecamatan Embaloh Hulu, di Kabupaten Daerah Tingkat II Kapuas Hulu, banyak mempunyai kesamaan dalam pola dan pandangan hidup serta adat-istiadat. Suku terdekat dengan mereka adalah Dayak Banuaka’ dan Dayak Kantu. Masyarakat Iban juga mempunyai hubungan ekonomi yang erat dengan orang melayu dan cina yang menguasai perdagangan di daerah itu. Masyarakat Iban pada umumnya tingggal di rumah panjang.

Di Kecamatan Embaloh Hulu ada tiga rumah panjang yang merupakan pemukiman masyarakat Iban dari delapan desa yang ada di seluruh kecamatn. Satu dusun di luar wilayah ketiga desa dihuni oleh orang Banuaka’, dalam pola rumah panjang yakni Dusun Ulak Batu.

Sementara masyarakat Iban yang mendiami 6 desa dan 29 dusun di wilayah Kecamatan Batang Lupar-Lanjak, hampir semuanya menempati rumah panjang. Kecuali kelompok masyarakat yang tinggal di kota Kecamatan Lanjak.

Sebagian besar mereka hidup bertani secara tradisional, di sampin mengumpulkan hasil hutan, berkebun kopi, kakao, lada, tengkawang, karet alam atau menjadi buruh ke negara tetangga Sarawak Malaysia Timur dan Brunei.

Di lingkangan pemukimannya masyarakat Iban memelihara anjing, kucing, ayam, babi dan kadang-kadang sapi atau kambing. Daging binatang terutama diperlukan sekali pada saat-saat melakukan upacara adat, seperti gawa’, belian/dukun, perkawinan, kematian atau untuk disuguhkan kepada tamu-tamu terhormat yang datang berkunjung.

Kebesamaan pada masyarakat Iban tergambar dengan jelas pada waktu mereka melakukan pekerjaan berat, seperti mendirikan rumah. Mulai dari proses perencanaan sudah ada musyawarah yang dipimpin oleh seorang “Tuai Rumah” yang juga adalah seorang pemegang “Kayu Burung” (tongkat kepemimpinan), fungsionaris adat dan pimpinan dalam melaksanakan upacara adat di rumah panjang.

Walaupun pembangunan rumah panjang merupakan tanggung jawab bersama, dalam menentukan dan mengusahakan bahan bangunan serta menentukan ukuran bilik tetap kewenangan keluarga masing-masing.

Keadaan suasana dalam rumah panjang memudahkan setiap warga masyarakat mengenal satu sama lain secara lebih terbuka dan dekat, bergaul secara harmonis dan mengurangi kecemburuan sosial.

Pada waktu tertentu ada keluarga yang pergi dari rumah panjang misalnya untuk bekerja di ladang, dan setelah panen selesai mereka akan kembali. Keadaan yang demikian tidak mengurangi kewajiban mereka dalam malaksanakan dan melestarikan adat-istiadat yang berlaku dan hidup di lingkungan rumah panjang.

Pemukiman Masyarakat Dayak Banuaka’

Masyarakat Dayak Banuaka’ oleh masyarakat Dayak iban lebih dikenal dengan “orang Mamaloh”. Mereka mendiami Kecamatan Embaloh Hulu, sepanjang Sungai Tamambaloh (Embaloh) dan Sungai Tamau, anak sungai Tamambaloh. Sungai Tamambaloh disebut “Batang Kayau”. secara administratif masyarakat Dayak Banuaka’ menempati limadesa dengan sepuluh dusun. Sedangkan di Kecamatan Batang Lupar, Lanjak, pemukiman mereka tersebar di sepanjang sungai Labiyan (Lebuyan) dalam satu desa dengan tujuh dusun.

Sungai Tamambaloh dan sungai Labiyan merupakan dua sungai terbesar di daerah tersebuat, yang menjadi jalan masuk dari dan keluar de daerah itu.

Sebagian besar mereka manganut agama Kristen Katolik, yang awalnya dibawa masuk oleh para misionaris dari Eropa.

Dengan keterbatasan sumber alam, kemiskinan dan pendidikan yang relatif rendah sangat sukit bagi mereka untuk menilai dan memilih perubahan yang dikehendaki. Keraguan sikap ini menyebabkan krisis budaya, yang mengembangkan sikap individualisme dalam kehidupan bermasyarakat.

Masyarakat Banuaka’ tidaklagi menempati rumah panjang. Mereka bermukim di rumah-rumah tunggal yang tampak sangat bervariasi dalam ukuran dan kualitas bangunanya. Perbedaan tersebut merupakan salah satu penghabat dalam pergaulan antar warga masyarakat. Kegiatan kebudayaan yang menonjolkan komunitas secara perlahan-lahan mengalami krisis. Dengan membangun balai desa, mereka bermaksud mengurangi krisi kebudayan itu. Tetapi keberadaan balai desa di tengah-tengah pemukiman masyarakat ternyata tidak mempunyai fungsiyang jelas bagi pembinaan dan pengembangan kebudayaan, karean pemeliharaan dan penggunaannya bukanmenjadi kebutuhan spritual warga masyarakat.

Pola pemukiman rumah tunggal lebih memberikan kebebasan kepada setiap keluarga, tetapi banyak menghambat antar keluarga.

Makna Rumah Panjang

Rumah panjang yang merupakan rangkaian tempat tinggal yang tersambung telah dikenal hampir seluruh suku Dayak. Orang Iban menyebutnya “Rumah Panjae” dan orang Banuaka’ menyebutnya “Sao Langke”.

Rumah panjang memberikan makna tersendiri bagi penghuninya. Bagi masyarakat Iban dan Banuaka’, rumah panjang adalah pusat kebudayaan mereka, karena hampir seluruh kegiatan hidup mereka berlangsung di sana. Ralph Linton (dalam The Culture Background of Personality, New York: Appleton-Century-Croft, 1945, yang dimuat oleh Editor T. O Ilrohmi dalam buku yang disuntingnya dan diberi judul Pokok-Pokok Antropologi Budaya) mengatakan:

“Kebudayan adalah seluruh cara kehidupan dari masyarakat yang mana pun dan tidak hanya mengenai sebagian dari cara hidup itu yaitu bagian yang oleh masyarakat dianggap lebih tinggi atau lebih diinginkan….. Keseluruhan ini mencakup kegiatan-kegiatan dunia seperti mencuci piring atau menyetir mobil dan untuk tujuan mempelajari kebudayaan, hal ini sama derajatnya dengan hal-hal yang lebih halus dalam kehidupan. Karena itu, bagi seseorang ahli ilmu sosial tidak ada masyarakat atau perorangan yang tidak berkebudayaan. Tiap masyarakat  mempunyai kebudayaan, bagaimanapun sederhananya kebudayaan itu dan setiap manusia adalah mahluk berbudaya, dalam arti mengambil bagian dalam sesuatu kebudayaan.”

Mengenai pergeseran nilai budaya dan kemampuannya bertahan diungkapkan oleh Carol R. Ember dan Melvin Ember sebagai berikut:

“Kenyataan bahwa kebudayaan malah berkembang menunjukkan bahwa kebiasaan-kebiasaan yang dikembangkan oleh suatu masyarakat disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan tertentu dari lingkungannya. Ini tidak mengherankan, karena kalau sifat-sifat budaya tidak disesuiakan kepada beberapa keadaan tertentu, kemungkinan masyarakat untuk bertahan akan berkurang. Adat yang meningkatkan ketahanan suatu masyarakat dalam lingkungan tertentu merupakan adat yang dapat disesuaikan, pada umumnya kebudayaan dikatakan adaptif, karena kebudayaan itu melengkapi manusia debgan cara-cara penyesuaian diri pada kebutuhan-kebutuhan fisiologis dari badan mereka sendiri dan penyesuian pada lingkungan yang bersifat fisik-geografis maupun pada lingkungan sosialnya.” (1980:28)

Kita tidak perlu terburu-buru menilai bahwa rumah panjang menghambat kemajuan dan pembangunan.

Michael R.Dove dalam bukunya Peranan Kebudayaan Tradisional Indonesia dalam Modernisasi, mengatakan:

“Dalam konteks studi dan perencanaan pembangunan di Indonesia, kesan komunalisme atas rumah panjang suku Dayak kadang-kadang dianggap sebagai suatu kekurangan, pada waktu tertentu sebagai keuntungan dan terkadang sebagai gabungan dari keduanya….”

Pada tingkat pemerintahan provinsi di Indonesia, bentuk organisasi sosial sebuah rumah panjang secara jelas dianggap sebagai masalah. Para pejabat provinsi mengingatkan keluhan atas rumah panjang. Hidup di rumah panjang dikatakan “menjemukan”, “kotor” karena masalah higiene dan sanitasi dan “berbahaya” (karena adanya ancaman penyakit dan bahaya kebakaran yang tidak disengaja). Bila diusut lebih seksama, ternyata kritikan serupa ini sangat bersifat subjektif. Rasa jemu tentu saja merupakan masalah selera dan kebutuhan pribadi. Masalah higiene, sanitasi dan kesehatan tidak lebih buruk di sebuah rumah panjang dibandingkan dengan suatu desa yang terdiri dari rumah-rumah untuk kediaman satu keluarga. Api juga bukan merupakan ancaman besar di tengah rimba Kalimantan yang banyak hujannya. Ancaman kebakaran yang meluas dari rumah ke rumah lainnya bukan tidakada, tetapi jelas ancaman itu tidak akan lebih besar daripada di kota mana saja di Indonesia. (1985:72-73)

Tampak bahwa alasan-alasan untuk menjelekkan rumah panjang, jelas sangat merugikan bagi kehidupan budaya komunal masyarakat Dayak.

Kehidupan Komunal di Rumah Panjang

Rumah panjang yang tersisa pada masyarakat Iban merupakan contoh kehidupan budaya tradisional yang mampu bertahan dan beradaptasi dengan lingkungan. Kiranya perlu diungkapkan lebih jauh faktor-faktor yang menyebabkan masyarakat Iban dapat mempertahankan rumah panjang mereka.

Masyarakat Iban memiliki naluri untuk selalu hidup bersama serta berdampingan dengan warga masyarakat lainnya. Mereka suka hidup damai dalam komunitas yang harmonis sehingga berusaha terus bertahan dengan rumah panjangmereka. Harapan ini didukung oleh kesadaran setiap individu untuk menyelaraskan kepentingannya dengan kepentingan bersama. Kesadaran tersebut di landasi oleh alam pikiran religo-magis, yang menganggap bahwa setiap warga mempunyai nilai dan kedudukan serta hak hidup yang sama dalam lingkungan masyarakatnya.

Dengan mempertahankan rumah panjang, masyarakat Dayak Iban tidak menolak perubahan, baik dari dalam maupun dari luar, terutama perubahan yang menguntungkan dan sesuai dengan kebutuhan rohaniah dan jasmaniah mereka.

Pola pemukiman rumah panjang erat hubungannya dengan sumber-sumber makanan yang disediakan oleh alam sekitarnya, seperti lahan untuk berlandang, sungai yang banyak ikan dan hutan-hutan yang dihuni binatang buruan. Namun dewasa ini, ketergantungan pada alamsecara bertahap sudah mulai kurang. Masyarakat Iban telah mengenal perkebunan dan peternakan.

Rumah panjang menggambarkan keakraban hubungan dalam keluarga dan pada masyarakat.

Rumah panjang juga memperkuat kesatuan dalam kegiatan ekonomi. Sistem kerja “beduruk” dan “besaup” (gotong royang) lebih mudah dilakukan. Dalam beduruk setiap tenaga kerja dari masing-masing keluarga dalam kelompok kerja yang disebut “duruk” selalu diperhitungkan dengan cermat secara kekeluargaan. Sedangkan besaup biasa dilakukan apabila ada keluarga mengalami kemalangan atau musibah, dengan maksud murni untuk membantu.

Sedangkan “ngari” atau “ngambe ae” dapat diartikan sama dengan buruh tani, tetapi bekerja pada orang lain secara demikian tidak semata-mata untuk mendapatkan imbalan “barang” melainkan juga untuk tukar kerja. Sesuatu yang akan dikerjakan tidak selalu sma tetapi tergantung pada kebutuhan pihak yang “ngari”.

Pada masyarakat Iban tenaga kerja pria dan wanita dihargai sama, karena yang diperhitungkan dalam hal ini adalah hari kerja dan satuan tenaga kerja. Dalam kehidupan komunal yang demikian segala tindakan dan tingkah laku, selalu di arahkan pada suatu kerja sama dan sifat kekeluargaan sehingga antara tanggung jawab individu dari setiap keluarga dan tanggung jawab bersama dalam kelompok tidak jauh berbeda.

Disamping itu terdapat kebiasaan berbagi rezeki hasil buruan. Apabila ada warga yang berhasil menangkap babi hutan atau rusa maka keluarga lain dalam lingkungan rumah panjang akan menerima bagian sesuai denga adat istiadat yang berlaku.

Kebiasaan ini merupakan pencerminan adanya suatu saling membutuhkan dan ketergantungan satu sama lain.

Walaupun pada tahap perkembangan selanjutnya, tradisi yang demikian juga mengalami pergeseran, baik karena warga rumah panjang semakin bertambah maupun perubahan sosial dan perubahan lingkungan alam, yang tidak memungkinkan lagi sebagai tempat berburu. Tetapi bukan berarti kebiasaan untuk membagi rezeki turut punah begitu saja. Jika rezeki tidak seberapa maka keluarga lain dapat diundang untu makan bersama.

Seni Tradisional

Rumah panjang selain sebagai tempat kediaman juga merupakan pusat segala kegiatan tradisional warga masyarakat. Apabila diamati secara lebih seksama, kegiatan di rumah panjang menyerupai suatu proses pendidikan tradisional yang bersifat non-formal.

Dalam masyarakat Iban terdapat pembagian tugas atau perbedaan dalam mengerjakan seni tradisional. Kaum pria terampil dalam ngamboh (pandai besi), menganyam dan mengukir, sedangkan wanita lebih terampil menenun dan menganyam yang halus.

Dengan banyaknya kegiatan yang dilakukan di rumah panjang, pada waktu sengggang di sela-sela kegiatan rutin dalam mengerjakan ladang, sungguh merupakan suatu suasana dan kesempatan yang menyenangkan dan akrab, karena saat itulah mereka dapat berbincang-bincang (“berandau”) untuk saling bertukar pikiran mengenai berbagai pengalaman, pengetahuan dan keterampilansatu sama lainnya. Hal seperti itu bukanlah suatu yang sukar untuk dilakukan, sekalipun pada malam hari atau keadaan cuaca buruk, sebab mereka berada di bawah satu atap. Demikianlah pengalaman, pengetahuan dan keterampilan di wariskan secara lisan kepada generasi penerus. Dalam suasana kehidupan rumah panjang, setiap warga dengan sukarela dan terbuka terhadap warga lainnya dalam memberikan petunjuk dan bimbingan dalam mengerjakan sesuatu. Kesempatan seperti itu juga terbuka bagi kelompok dari luar rumah panjang.

Dalam kelompok yang relatif kecil lebih mudah bagi setiap warga untuk berusaha menambah pengetahuan dan keterampilannya, sehingga mereka dapat berguna dalam masyarakat, sebab apabila mereka tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai mereka dianggap pemalas.

Masyarakat Banuaka’ sesungguhnya kaya akan seni tradisional seperti menyaya (untaian) manik-manik dan kawit (ukir-ukiran). Dengan pola pemukiman rumah tunggal, sangat sulit untuk mengembangkan atau mewariskannya kepada warga lain.

Tradisi Adat Istiadat

Masyarakat warga rumah panjang sebagai masyarakat tradisional yang berpikiran religo-magis, percaya kepada mahluk halus, roh-roh dan hantu-hantu yang menempati alam semesta ini, demikian pendapat Dr. Kuntjaraningrat dalam tesisnya: Alam Pikiran Religio-magis (soerojo Wignjodipoero, SH, Pengantar dan Azaz-azas Hukum Adat, 1990:60)

Sebagian besar warga masyarakat Iban telah menganut Agama kristen, namun tradisi dan adat-istiadat tetap dipertahankan karena tradisi dan adat-istiadat itu penting bagi ketertiban dan kemanan mereka. Dengan tradisi dan adat-istiadat itulah mereka telah berhasil mempertahankandan menata kehidupan bermasyarakat.

Masyarakat Iban yang hidup di rumah panjang mesih mempertahankan berbagai upacara seperti Gawa’ Kenyalang, Gawa’ Tucung Taun, Gawa’ Kelingkang dan Gawa’ Nike ka Benih. Sedangkan pada masyarakat Banuaka’ masih ada upacara Pamole’ Beo’. Pada dasarnya upacara-upacara tersebut merupakan ucapan syukur atas segala anugerah dan berkah yang telah diterima, atau sebagai permohonan ampun  kepada “Betara” (Iban) atau Atalata (Banuaka’), penguasa alam semesta ini. Di samping itu juga terdapat upacara penyembuhan atau pengobatan orang sakit yang disebut “belia” atau “bumok” oleh seorang “Manang” (dukun). Upacara ini berhubungan dengan kepercayaan bahwa roh atau jiwa orang sakit di ganggu roh halus yang berada di lalm gaib.

Upacara-uapacar adat selalu berdimensi tranendun, karena menurut keyakinan mereka, kehidupan di dunia ini berhubungan sebab akibat dengan alam baka. Sehingga untuk pelaksanaan suatu upacara adat dituntut suatu kerja sama, saling membantu dengan hati yang tulus agar dicapai keberhasilan.

Dalam upacara adat tampaklah peranan penting rumah panjang. Apalagi dalam upacara demikian selalu ditampilkan aneka seni tradisional seperti tarisn, seni tutur, seni ukir atau permainan-permainan yang sarat dengan nilai-nilai sakral. Melalui aneka seni budaya itu kita dibantu untuk memahami lebih dalam adat istiadat mereka.

Penutup

Kebudayaan daerah tidak akan mampu mengisolasikan diri dari pengaruh-pengaruh kebudayaan yang datan dari luar. Namun yang perlu dikaji adalah bagaimana seharusnya asimilasi kebudayaan terjadi sehingga masyarakat yang mengalami perubahan tidak kehilangan arah atau kehilangan identitas budayanya.

Dampak negatif kehilangan rumah panjang terhadap keseluruhan kebudayaan memang harus diwaspadai. Michael D.Dove dalam buku suntingannya yang berjudul Peranan Kebudayaan Tradisional Indonesia dalam Modernisasi mengatakan:

“Namun demikian, mengingat keinginan pemerintah untuk meningkatkan standar hidup dengan merangsang inisiatif dan kewiraswataan individu, persepsi resmi mengenai rumah panjang telah menghasilkan kebijaksanaan mengurangi minat perawatan rumah panjangyang masih ada, dan khususnya pembangunan rumah panjang baru sambil mendorong pembuatan rumah keluarga tunggal yang terpisah. Kenyataan ini merupakan kelanjutan kebijaksanaan yang juga diterapkan dalam masa pemerintahan kolonial Belanda.” (1985:73)

Mungkin sangat sulit menghindari hilangnya nilai-nilai luhur kehidupan dalam masyarakat bersama dengan hilangnya rumah panjang. Oleh sebab itu, kita memerlukan para perencana dan pelaksana pembangunan dapat sungguh-sungguh memanusiakan pribadi di dalam masyarakat secara utuh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s