Yustina Neni

Yustina Neni

Yustina Neni lahir di Yogyakarta, 1969, tinggal dan bekerja di Yogyakarta. Pernah menempuh pendidikan di Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Pada tahun 1995 Neni menjadi salah satu pendiri Yayasan Seni Cemeti (sekarang IVAA). Tahun 1997 mendirikan Kedai Kebun Forum, yang berfungsi selain sebagai restoran juga sebagai ruang alternatif yang menyokong penyelenggaraan aktifitas seperti pertunjukan teater, musik, performance art, pameran seni rupa, diskusi, lokakarya, dan lain-lain. Pada 2007 dan 2008 terlibat dalam kepengurusan Festival Kesenian Yogyakarta, sejak tahun 2010 terpilih menjadi Direktur Yayasan Biennale Yogyakarta dan menjadi Direktur Biennale Jogja XI dan XII.

Helly Minarti

Helly Minarti

Helly Minarti menyelesaikan studi S3 di bidang Kajian Tari, University of Roehampton, London tahun 2013. Selain menulis dan meneliti seni tari, Helly juga tertarik dengan isu-isu seni dan kebudayaan secara luas terutama perihal kebijakan kebudayaan serta praktik seni kontemporer. Ia pernah menjadi manajer bidang seni di British Council Jakarta, dan meneliti tari di PR China. Helly pernah memproduksi film tari berjudul Exodus: Women on the Run (2003) yang sempat keliling dunia dan memenangkan beberapa penghargaan, ikut mengkuratori 2nd Asia-Europe Dance Forum (2004) bertajuk Eurasia: Mis/understanding, serta Moonson, program pertukaran seniman Asia dan Eropa (2006). Kini ia sibuk menjadi penyunting lepas untuk buku-buku seni budaya terbitan BAB Publishing Indonesia, meneliti untuk World Bank dan British Council serta menjadi dramaturge dan konsultan kreatif untuk koreografer Katia Engel dan Fitri Setyaningsih. Helly juga menjadi anggota Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta periode 2013-2015. 

Jean-Pascal Elbaz

Jean-Pascal Elbaz

Jean-Pascal Elbaz, dilahirkan di Perancis, 1961, kini tinggal dan bekerja di Yogyakarta. Pascal telah 20 tahun tinggal di Asia, dengan pengalaman di bidang manajemen organisasional lebih dari 12 tahun. Pascal bekerja pada pengembangan organisasi dan bisnis dalam lingkungan budaya yang beragam, dengan fokus khusus pada seni rupa dan sastra. Pengalamannya di Indonesia dimulai dari bekerja sebagai Translation Program Officer di Kedutaan Besar Prancis untuk Indonesia pada tahun 1996, kemudian pada 1997-2002 menjadi Direktur Lembaga Indonesia Prancis Yogyakarta (sekarang Institut Français Indonesia). Usai masa tugas, Pascal berpindah menjadi Direktur dari Alliance Francaise de Madras, di Tamil Nadu, India sepanjang 2002-2006. Sejak 2007 Pascal kembali ke Yogyakarta untuk mengelola sebuah restoran a la India yang juga menjadi ruang seni alternatif bernama Sangam House. Ia juga penerjemah dan interpretor untuk berbagai klien seperti World Bank, G7+, NGO’s, serta penerjemah dan editor untuk banyak karya sastra seperti St Exupery, V. Hugo, Ramuz untuk pertunjukan Opera, Jean Genet dan Samuel Beckett untuk Teater Garasi, Biografi  Dagpo Rimpoche, dll.

Eric Awuy

Eric Awuy

Eric Awuy lahir di Bern, Swiss, 21 Januari 1964. Belajar bermain musik sejak usia dini di bimbing oleh ibunya, Paule Awuy, asal Quebec, Kanada, yang seorang pianis dan pedagog musik. Selanjutnya masuk ke sekolah musik pada usia 5 tahun di Jerman. Diusia 5 tahun, alat musik flute sudah bisa ia mainkan dengan mahir. Saat berusia 13 tahun ia memutuskan mulai belajar trompet melalui guru privat. Memutuskan mempelajari trompet secara mendalam di Hull Music Conservatory (1979-1985) dan di Montreal Music Conservatory (1985-1988), keduanya di Kanada. Lulus dari Konservatorium ini tahun 1988 dengan penghargaan tertinggi, Premier Prix de Conservatoire, dalam bidang trompet dan musik kamar.

Sejak 1988 Eric sebagai pemain orkestra profesional di Montreal, Kanada dan di akhir tahun yang sama pula ia bermain bersama The Montreal Symphony Orchestra di bawah konduktor Charles Dutoit. Setelah itu, ia sering bermain bersama orkestra-orkestra lain, seperti National Arts Center, Quebec Symphony Orchestra dan World Youth Orchestra, yang membawanya keliling dunia, tampil di Moskwa, Berlin, Paris, Buenos Aires, dan New York. Dalam kesempatan itu, ia juga sempat merasakan bekerja di bawah konduktor besar dunia, seperti Zubin Mehta dan Pierre Boulez.

Pada 1995 ia memutuskan untuk tinggal dan menetap di Indonesia. Di sini, Eric terikat kontrak dengan Twilite Orchestra, dimana ia di tunjuk sebagai tanaga pendidik serta sebagai konduktor Twilite Youth Orchestra). Selain itu ia juga mengajar di Sekolah Musik Amadeus.

Eric Awuy terpilih menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) periode 2009-2012 dan menjabat sebagai Ketua Bidang Umum. Selama jabatannya Eric memberikan perhatian yang sangat besar pada dokumentasi yang dimiliki DKJ. Pada 2011 Eric menyambut baik tawaran kerjasama dengan Jaringan Arsip Budaya Nusantara (JABN). Ericlah yang memiliki andil besar dalam pembangunan basis data kearsipan DKJ. Usai masa tugas di DKJ, Eric kembali fokus pada karier musiknya tanpa berhenti berkomitmen di dalam JABN, sebagai steering committee dari JABN sekaligus salah satu Dewan Juri Program Hibah KARYA!.

Sumber : Arsip Budaya Nusantara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s